Huft, rasanya jengkel banget brow lean nih orang, merasa paling tua sendiri walaupun sebenernya dia gk bisa apa-apa, tau gk brow kerja dia tu lebih cepat kerja cewek yg paling lelet, tapi kalau bicara huuhhhh tinggi banget, lebih tinggi daripada tower listrik pokonya, dan orangnya pun suka adu domba. Sudah banyak yang jadi sasaranya termasuk aku sendiri.
Jadi gini ya brow kenapa aku bilang suka adu domba, dulu waktu aku pertama kali datang kemari, kami satu rombongan ada 7 orang, termasuk tuh orang tua yang lupa umur, ketika itu rombongan kami terpisah menjadi 3, dua orang, dua orang, dan tiga orang. Dari tiga orang tersebut ada orang itu, aku, dan seorang lagi kawan ku satu kamar sekarang, waktu itu aku dan kawan ku masih rajin-rajinya memasak termasuk tu orang tua, tapi orang tua ini hanya menunggu ketika sudah matang saja, ea seperti bos lah kawan.
Suatu hari di tiga orang tersebut kami kedatangan seorang lagi yg stress sampai sekarang, orang stres itu berulah ketika kerja ditempat aku dia pura-pura mabok kendaraan dan dia meminta ikut kerja ditempat ku, karena memang ditempat ku kerjanya lebih ok, so kepala kerja kami terpaksa menambahkan orang stress itu kesini. Nah dari sini lah orang tua gila itu mulai mengadu domba kami (aku teman ku vs orang strees baru itu).
Kan ceritanya waktu itu waktu kami masih bertujuh aku yang memasak, yah maklum lah namanya juga baru nyampai, jadi aku masak seadanya bumbu saja, so masakan ku gk enak brow, nah ketika itu orang stress itu komentar terhadap masakan ku dibilang gak enak lah gak sedap lah ini lah itu lah, tap dia habis dua piring besar penuh macam gununh (munjung-munjung orang jawa bilang). Padahal itu aku bangun jam 4 (GMT +8) jam 3 pagi kalau di jawa, aku bangun seorang diri dan yang lainya masih tidur, sampai sore hari pun orang stress itu masih saja berbicara tentang masakan ku itu, yah sebagai manusia biasa aku merasa jengkel lah karena masakan ku tidak dihargai, padahal dia tinggal makan saja. Keesokan harinya pun masih saja begitu brow dari tujuh orang aku bangun pagi sendirian dan pergi memasak sendirian juga, sementara orang stress itu tinggal makan tapi komentar juga namun tetap habis dua piring, saking jengkelnya aku orang stres itu aku sahutin "kalau ingin masakan enak jangan makan masakan ku, pergi ke restoran sana, makan disana, semua enak-enak, bangun tidur tinggal makan saja kebanyakan komentar, bilang gak enak namun habir dua piring".
Rasa jengkel isu masih melekat erat didalam hati ku, dan keesokan harinya mengingat komentar orang stress yang kebanyakan komentar itu, aku taburkan garam stengah bungkus diatas sayur yang telah aku masak, namun sebelum aku taburkan garam aku telah menyisihkan sayur yang tidak asin, semua kawan ku komentar kalau masakan ku keasinan, namun aku berkata "tinggal makan saja komentar, kalau mau silahkan makan, kalau gak mahu ya buang saja" aku betkata seperti itu didepan orang stress itu, namun heranya aku orang stress itu juga habis dua piring brow, bahkan sampai sayurnya habis, dan teman ysng lain gk kebagian, untung saja aku sudah ambil sebagian sayur yang belum aku taburi garam, so yang lainya yang gak pernah komen masih kebagian sayurnya. Mengingat komentarnya itu akhirnya aku malas lagi untuk banfun pagi-pagi hanya untuk memasak, dalam hati ku berkata "kenapa aku harus bangun pagi untuk memasak tetapi yang lainya masih tidur, sementara hasil masakan ku dicaci maki" so aku berpikir lebih baik aku tidur enak dibadan daripada harus memasakan orang stress yg gak tau terima kasih.
Bersambung brow